Abu Buraidah As-Sundawy

Ahlan wa Sahlan Bikhudurikum…

Waspadalah Modus Operandi Penipuan Gaya Baru ‘Iptu Gunawan’ !

leave a comment »

Sudah sering saya dengar orang tertipu lewat SMS berhadiah, memeras lewat ponsel dan berbagai cara lain yang menggunakan sarana teknologi canggih lainnya. Tapi tak pernah terpikirkan peristiwa itu bakal menimpa saya.

Awalnya seseorang mengaku sebagai Iptu Gunawan dari unit narkoba Polda Metro Jaya menelepon saya dengan nomor 085273504145 sekitar pukul 11.00. Saya diminta mematikan HP sampai jam 15.00. Alasannya, seorang bandar narkoba yang tengah jadi incaran polisi mengalihkan nomornya ke nomor HP saya.

Untuk memudahkan pelacakan, saya diminta mematikan hanphone. Untuk meyakinkan, si penipu itu beberapa menit kemudian menelepon saya yang kebetulan lupa belum mematikan HP. “Tolong Pak ini tugas negara, tolong dibantu untuk menangkap bandar narkoba ini,” ujar suara di seberang sana yang mengaku bernama Iptu Gunawan tadi.

Rupanya, sesaat kemudian setelah yakin HP saya non aktif, si penipu ini kemudian menelepon rumah ibu saya di Subang, Jawa Barat. Mereka mengabarkan saya mengalami kecelakaan lalu lintas dan terbaring kritis di rumah sakit.

Tak tanggung-tanggung orang yang mengaku Gunawan ini ganti ‘satuan’ dan menyebutnya dari Unit Laka Lantas (Kecelakaan Lalu Lintas) Polda Metro Jaya. Ketika ditanyakan rumah sakitnya dan luka-luka yang diderita, pelaku tidak menjelaskannya secara detil.

“Ini sudah menjadi tanggungjawab petugas merawat korban lalu lintas,” kira-kira begitulah pernyataan sang penipu itu. Mulia sekali, itu yang ada dibenak ibu saya ketika itu.

Pelaku kemudian meminta nomor telepon ayah saya dengan alasan biar lebih leluasa berbicara mengingat ibu saya tak henti-hentinya menangis. Ia juga menanyakan nomor telepon istri saya. Tak kurang dari semenit kemudian istri saya ditelepon dan meminta HP-nya juga dimatikan dengan alasan pelacakan nomor ganda yang dilakukan bandar narkoba. Sama seperti alasan yang dikemukakan ketika sang penipu meminta menonaktifkan ponsel saya.

Cerita berlanjut, ketika tak lama kemudian ayah menerima telepon dari orang yang sama. Tapi kali ini pembicaraan sedikit berbeda.

Dari ujung sana, sang penipu itu mengabarkan kondisi saya yang menurut ceritanya terbaring kritis di sebuah rumah sakit di Jakarta. Selain luka dalam, kaki saya katanya terpaksa harus diamputasi.

Untuk melancarkan operasi, katanya, harus mendatangkan sebuah alat medis dari ‘Kimia Farma’ Semarang. Lalu dari ujung telepon terucap dana yang diperlukan mencapai Rp 45 juta seraya menyebut sebuah nama dan nomor telepon untuk pengiriman dananya guna memuluskan akal bulusnya.

Sebenarnya ibu sempat beberapa kali menghubungi ponsel saya dan istri, tapi tak berhasil karena memang tidak aktif. Sampai akhirnya menelpon adik saya yang sama-sama bekerja di Jakarta.

Kebetulan ia juga punya teman yang sekantor dengan saya. Ia pun mengecek keberadaan saya dan menceritakan apa yang dialami keluarga di kampung. Sontak saya kaget sekaligus berang. Saya baru saya sadar bahwa orang yang mengaku polisi dan meminta mematikan hanphone adalah seorang penipu. Sialan… umpat saya ketika itu. Rasa marah dan kesal berkecamuk.

Tanpa menunggu waktu lama, saya pun langsung mengecek kondisi ibu yang sempat pingsan dan mengabarkan bahwa saya sehat-sehat aja di Jakarta. Untungnya tidak terjadi apa-apa dengan kesehatan ibu saya yang baru sembuh setelah sakit selama lima bulan.

Untungnya lagi ayah saya belum sempat menyetorkan dana Rp 45 juta seperti yang diminta petugas yang mengaku-ngaku polisi itu. Yang saya tidak habis pikir adalah cara mereka menipu luar bisa canggih. Mereka dengan mudah mendapat nomor telepon saya termasuk nomor kontak orang tua di kampung.

Memang bisa saja data itu didapat dari lembaran aplikasi kartu kredit ataupun rekening bank, ataupun aplikasi pengguna telepon pasca bayar. Cara mereka berbicara juga meyakinkan, dengan nada dan gaya bicara seperti aparat sungguhan (karena seringkali karena tugas-tugas saya mengharuskan berurusan dengan dengan aparat kepolisian).

Alhamdulillah saya luput menjadi korban tapi bukan mustahil ada orang yang lain yang sudah menjadi korbannya. Tulisan saya ini diharapkan bisa mengingatkan orang lain agar lebih berhati-hati mengingat makin canggihnya aksi tipu-tipu penjahat di jaman susah seperti ini.

Rizal Ramadhan

luloet@yahoo.com

Sumber : kotasubang.wordpress.com

Advertisements

Written by hilmanmuldani

August 23, 2008 at 3:40 am

Posted in Nasihat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: